Agenda
17 July 2019
M
S
S
R
K
J
S
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Statistik Pengunjung

Total Hits : 795654
Pengunjung : 176162
Hari ini : 30
Hits hari ini : 113
Member Online : 104
IP : 18.206.241.26
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

yudid_happy@yahoo.co.id    

PENDIDIKAN PATRIOTISME DAN HEROISME

Tanggal : 26/07/2010, dibaca 567 kali.

PEMBELAJARAN SEJARAH MERUPAKAN DASAR DALAM
MENDIDIK PATRIOTISME DAN HEROISME


Profil modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya masyarakat remaja pasca reformasi semakin memprihatinkan. Berbagai bentuk dekadensi modal sosial yang dialami oleh masyarakat di Indonesia, misalnya krisis kepercayaan dan kejujuran terhadap penyelenggara negara, rapuhnya integrasi nasional yang mengarah kepada disintegrasi bangsa. Kerapuhan integrasi bangsa ditandai oeh fenomena berupa munculnya konflik sosial antar suku, antar daerah, antar agama, antar pemeluk agama untuk sesama agama dan yang berlainan agama, tuntutan untuk memisahkan diri dari NKRI oleh beberapa daerah di Indonesia, dan berbagai jenis fenomena sosial negatif lainnya. Di sisi lain, dikalangan masyarakat remaja juga terjadi dekadensi modal sosial yang sangat memprihatinkan. Bentuk-bentuk dekadensi modal sosial yang ditunjukkan remaja berupa : pergaulan bebas, kebebasan seksual, konsumsi narkoba, tawuran, sikap dan perilaku amoral lainnya.
Untuk menumbuhkembangkan kembali modal sosial yang terkikis di kalangan masyarakat remaja khususnya di era reformasi dan globalisasi saat ini, maka kita perlu merekonstruksi modal sosial dikalangan remaja malaui integrasi ilmu pendidikan IPS di institusi pendidikan khusus dalam pembelajaran sejarah.

PROFIL KECENDERUNGAN PERILAKU REMAJA DI ERA REFORMASI DAN GLOBALISASI SEBAGAI MANIFESTASI MORAL SOSIAL YANG TERKIKIS
Manusia yang hidup di alam globalisasi bukan berarti bebas dari masalah, justru lebih diselimuti oleh berbagai masalah dan fenomena ketidakpastian (Makagiansar, 1990). Akibat dari fenomena ketidaktentuan atau ketidakpastian tersebut menyebabkan manusia tidak merasa tenang dan tentram dalam hidupnya karena manusia selalu digoncang oleh berbagai arus informasi dan arus budaya yang silih berganti yang selalu mempengaruhi pola pikir, sikap, dan prilaku manusia, baik yang bersifat positif dan negatif. Karena itu untuk tetap hidup, solid, tenang, dan tentram di era globalisasi, manusia harus memliki fondasi agama yang kuat dan pengetahuan sera bersikap selektif dan mengendalikan diri terhadap berbagai arus informasi dan arus budaya yang datang dari mancanegara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur dan peradaban kita serta nilai-nilai religius yang kita anut.

Sebagai akibat negatif dari adanya arus informasi dan arus silang budaya antara negara yang satu dengan negara lainnya di era globalisasi ialah munculnya berbagai fenomena sosial yang sangat memprihatinkan dengan transparans dan sedikit demi sedikit mulai mengikis nilai-nilai moral, religius, dan etika budaya masyarakat dunia secara makro dan masyarakat bangsa Indonesia dalam skala mikro. \Fenomena sosial yang memprihatinkan tersebut, misalnya berupa munculnya perilaku remaja yang cenderung amoral. Fenomena seperti ini merupakan fenomena sikap dan perilaku remaja yang sangat memprihatinkan berbagai pihak, yaitu dari pihak pendidik, tokoh agama, orang tua, tokoh masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak lainnya yang peduli terhadap masalah sosial-psikologis dan religius ini (Achiruddin, dalam Pedoman Rakyat, 1986)
Jika kita tinjau tentang Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis aserta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut maka kita dapat lakukanan salah satunya melalui suatu pembelajaran, misalnya pembelajaran sejarah yang merupakan pendidikan Patriotisme dan Heroisme.

PENTINGNYA BELAJAR SEJARAH SEBAGAI PENDIDIKAN PATRIOTISME DAN HEROISME
Untuk menghindari kecenderungan tindakan amoral pada remaja dapat kita salurkan melalui pembelajaran sejarah yang menarik. Ada beberapa tujuan pembelajaran sejarah. Pertama, membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat sebagai sebuah proses dari masa lampau, masa kini dan masa depan. Kedua, melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan. Ketiga, menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. Keempat, menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap prioses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. Kelima, menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan, baik nasional maupun internasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu siswa perlu mengikuti kegiatan belajar dan mengajar yang memadai. Dari proses belajar dan mengajar itu, diharapkan terjadi perubahan yang relatif permanen terhadap kemampuan, ketrampilan, sikap, dan perilaku siswa sebagai akibat dari pengalaman atau pelatihan dalam kegiatan belajar. Tapi sayang mata pelajaran sejarah sepertinya sudah tergeser dalam kurikulum tidak lagi menjadi penting, sebagai bukti sedikitnya jumlah jam yang diberikan untuk pelajaran sejarah misalnya di kelas X dan XI IPA hanya satu jam pelajaran dalam satu minggu..
Jika melihat masa lalu , berdasarkan TAP MPR No.II/MPR/1982 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara disebutkan ” Dalam rangka meneruskan dan mengembangkan jiwa semangat dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda, maka di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta, wajib diberikan pendidikan sejarah perjuang bangsa”. Pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), yang dimaksudkan agar pelajaran sejarah tidak sekedar mengajarkan pengetahuan sejarah belaka, melainkan juga menanamkan nilai-nilai perjuangan bangsa dalam hati siswa.
Saat ini, secara praktis dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dalam pengembangannya kegiatan pembelajaran merupakan langkah strategis yang berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan guru dan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran tatap muka, tugas terstrurtur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur berpengaruh pada kualitas kompetensi peserta didik di sekolah tersebut.
Untuk mewujudkan penggunaan KTSP dan mengembangkannya melalui tugas-tugas terstruktur dan tugas mandiri tidak terstruktur kami dengan waktu yang hanya satu jam pelajaran dalam satu minggu belajar mata pelajaran sejarah di kelas XI IPA maka harus benar-benar cerdas, cerdik dan kreatif dalam memanfaatkan kesempatan yang baik seefektif mungkin, sehingga berupaya bagaimana caranya agar siswa menyenangi pelajaran sejarah dengan senang, dan dapat berlanjut dengan senang pula mengerjakan tugas terstruktur dan tugas mandiri tidak terstruktur dengan baik dan tanggung jawab.
Sehubungan dengan materi-materi sejarah yang begitu banyak sehingga guru harus dapat memilih materi mana yang perlu sebagai tatap muka dan mana yang digunakan sebagai tugas terstruktur dan tugas mandiri tidak terstruktur. Ternyata dengan memanfaatkan seefektif mungkin waktu yang sedikit sungguh membuat penasaran dan hal ini membuat siswa belajar sejarah dengan semangat dengan didukung adanya sarana-sarana yang ada misalnya laboratorium IPS, media belajar yang ada misalnya peta dinding, atlas , gambar-gambar, patung-patung /arca, peta garis waktu, VCD dsb.
Melalui tugas mandiri tidak terstruktur misalnya tentang reaksi rakyat Indonesia ketika melawan kolonialisme, pada zaman pendudukan Jepang siswa lebih antusias dalam mengerjakannya bahkan siswa berkesan seakan-akan ikut dalam perlawanan melawan kolonial, bahkan timbul rasa benci terhadap penjajahan. Apalagi jika banyak waktu mungkin pembelajaran sejarah dapat saja di dramakan sehingga akan menimbulkan semangat patriotik dan jiwa kepahlawanan yang lebih besar. Dengan demikian dapat disimpulkan betapa pentingnya belajar sejarah yang merupakan pendidikan patriotisme dan heroisme.




Pengirim : Dra. Helena Asri S. MH
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas