Statistik Pengunjung

Total Hits : 821354
Pengunjung : 184415
Hari ini : 20
Hits hari ini : 75
Member Online : 104
IP : 3.209.80.87
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

yudid_happy@yahoo.co.id    

PENDIDIKAN SEJARAH UNTUK MENANAMKAN DAN MEMBENTUK NASIONALISME

Tanggal : 26/07/2010, dibaca 1189 kali.

Pendidikan Sejarah untuk Menanamkan dan Membentuk Nasionalisme




Dalam enam dasa warsa peri kehidupan kenegaraan di Tanah Air terbukti bangsa Indonesia pernah mengalami beberapa kali konflik yang erat kaitannya dengan unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), serta politik. Sekalipun masalah SARA ini tidak sampai berujung pada terjadinya separatisme pada wilayah Indonesia yang sudah bersatu sejak awal kemerdekaan, namun harus diakui bahwa beberapa kelompok kecil masyarakat lainnya telah menunjukkan bahwa di Indonesia punya potensi untuk itu.

Konflik-konflik yang bernuansa etnis atau konflik antargolongan baik ditingkat atas atau yang lebih rendah lagi, misalnya antarkampung maupun tawuran antarpelajar pernah menjadi trend di awal tahun 1980-an. Konflik-konflik semacam inilah yang biasanya menguras tenaga dan pikiran yang pada akhirnya mengacaukan modal sosial nasional kita.

Nilai-nilai agama, adat budaya, dan sejarah yang dulu kita junjung tinggi sebagai perekat persatuan, kini telah meluntur. Kesadaran kita sebagai sebuah bangsa yang multietnik dan agama kini telah dikalahkan oleh egoisme SARA itu sendiri. Banyak variabel sebetulnya yang bisa mempengaruhinya. Namun, ada tudingan dari sebagian masyarakat kita bahwa kegagalan pendidikanlah sebagai salah satu penyebabnya.

Mungkin saja, tudingan itu sesungguhnya cukup masuk akal. Sebab, selama ini kita memang telah mengajarkan berbagai disiplin ilmu kepada siswa, namun semua itu barulah sebatas tranfer ilmu. Analisis sepintas dari berbagai buku pelajaran sosial tingkat SMA, masih banyak mata pelajaran sosial yang masih menekankan aspek materi dalam artian untuk mentransfer ilmu yang bersifat kognitif, sangat sedikit yang mengarah ke konatif. Jika pun ada buku yang sudah mengarah ke konatif, faktor guru di lapangan terkadang tidak mendukung hal tersebut. Sejarah mengajarkan tentang berbagai peristiwa masa lalu, tetapi jarang dikaitkan dengan apa dan bagaimana hikmah serta penerapan peristiwa sejarah tersebut di masa sekarang

Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah asal-usul, dan perkembangan, serta peranan masyarakat di masa lampau berdasarkan metode dan metodologi tertentu. Tujuan pelajaran sejarah adalah membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat sebagai sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan.

Pendidikan sejarah bisa menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. Selain itu, menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang. Menumbuhkan kesadaran diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta Tanah Air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan, baik nasional, maupun internasional.

Jadi, sebenarnya fungsi sejarah nasional adalah sebagai penumbuh kebudayaan nasional. Karena itu, ada baiknya perlu dilakukan revitalisasi dan lebih diperhatikan di dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Karena, melalui pengetahuan sejarah muncul kesadaran nasional. Sehingga, generasi muda dapat diberi inspirasi, aspirasi. Mereka diberi model peran kepahlawanan dan heroisme. Pendidikan sejarah perlu menekankan heroisme agar generasi muda dapat memperoleh aspirasi bagaimana pemimpin besar ini mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara.

Dengan demikian, negara kita tetap tegak dan lestari, bisa lebih kuat. Pendidikan sejarah perlu diperhatikan, tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga punya afeksi memberikan pengaruh pada tingkat emosi. Jadi, kita bisa meningkatkan nasionalime melalui sejarah. Bagaimana di masa lampau para perintis kemerdekaan negeri ini begitu tinggi idealisme dan nasionalismenya.



Pengirim : Dra. Helena Asri S. MH
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas